Misteri Batu Bleneng, Gunung Salam Tol Cikampek- Palimanan

  • Bagikan
batu bleneng
Keberadaan Batu Bleneng gunung salam jalan tol Cikampek - Palimanan (Cipali ) Km 181, Tepat berada pada pinggir jalan Desa Walahar , Cirebon/Foto: Istimewa

JAWA BARAT, INDOtayang.COM — Keberadaan Batu Bleneng gunung salam jalan Tol Cikampek- Palimanan (Cipali ) Km 181, Tepat berada pada pinggir tersebut , Desa Walahar , Cirebon, Jawa Barat.

Batu Bleneng memiliki berbagai macam kisah mistis dan legenda , mulai dari pengakuan para pekerja proyek jalan tol yang menyebutkan bahwa batu tersebut tidak bisa dihancurkan atau bahkan dipindahkan.

Pada tebing sisi selatan, bertengger sebuah batu besar. Mayoritas warga setempat menganggap batu tersebut keramat.

Hal itu pula yang menyebabkan konstruksi jalan tol di wilayah tersebut jadi berbelok-belok, mirip aksara S.

“Gunung yang tinggi bisa dibelah untuk jalan tol, tapi batu itu tidak bisa,” ujar Romli (55), warga di pinggir Jalan Tol Cikampek-Palimanan (Cipali), Senin (29/11/2021).

Di Jalan Tol Cipali, bentuk jalan yang menikung dan membelah bukit hanya ada di Km 181-182. Lokasi tersebut masuk wilayah Desa Walahar, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Secara turun temurun, warga Walahar menyebut bukit itu sebagai Gunung Salam. Sedangkan batu yang bertengger pada punggung bukit memiliki nama Batu Bleneng.

Romli yang tinggal pada kaki Gunung Salam percaya, Batu Bleneng memiliki kekuatan gaib sehingga batu seukuran bus kota itu sulit pindah maupun hancur.

Menurut Romli, lantaran Batu Bleneng bergeming, konstruksi jalan berubah, dari lurus 180 derajat menjadi letter S.

Romli mengatakan pekerja proyek jalan tol telah mencoba memindahkan dan menghancurkan Batu Bleneng menggunakan alat-alat berat.

Namun upaya tersebut selalu gagal. Kabarnya, setiap kali pekerja hendak memindahkan batu, maka terjadi insiden atau kecelakaan kerja.

Bahkan, kabarnya, ada operator alat berat yang meninggal dunia setelah nekat berupaya memindahkan Batu Bleneng.

“Katanya ada yang meninggal, cuma saya tidak lihat,” ujar Romli.

Mitos Batu Bleneng

Beberapa warga juga percaya mitos Batu Bleneng adalah sumbat mata air raksasa. Apabila batu itu posisi pindah, maka air akan menyembur tanpa henti.

Menurut warga, Batu Bleneng juga pernah jadi lokasi syuting acara televisi tentang lokasi-lokasi angker.

Selain itu juga terdapat sebuah saung atau gubuk yang menempel pada Batu Bleneng. Namun saung tersebut tidak terlihat dari jalan tol karena tersembunyi di balik batu.

Bagi pelintas Jalan Tol Cipali dari Cirebon ke Jakarta, Batu Bleneng terdapat di sisi kiri sedangkan pelintas dari Jakarta, batu itu ada di sisi kanan.

Akibat pemotongan Gunung Salam, Batu Bleneng kini berada di bibir tebing sisi selatan.

Terkesan bahwa area terluar pemotongan kurang dari 10 meter dari Batu Bleneng.

Pemotongan Gunung Salam menciptakan tebing yang mengapit jalan tol.

Kedua tebing itu telah disemen sehingga menutup kemungkinan guguran batu dan tanah ke badan jalan.

Panjang masing-masing tebing sekitar 300 meter sedangkan puncak tebing tingginya sekitar 40 meter.

Haryanto, warga Walahar, tak percaya Batu Bleneng memiliki kekuatan gaib.

Menurutnya, Batu Bleneng adalah batu gunung biasa yang kebetulan berukuran sangat besar. Secara kebetulan pula, batu itu terletak di dekat sekumpulan makam.

“Kalau saya tidak percaya, itu hanya kebetulan saja,” katanya.

Tentang alasan jalan tol di kawasan itu berbentuk letter S, Haryanto mengatakan bahwa hal itu terjadi karena tidak adanya kesepakatan harga antara pemilik lahan dan panitia pembebasan tanah.

Saat yang sama, pemilik lahan di lokasi alternatif bersedia menerima harga yang panitia  pembebasan lahan tawarkan. Maka konstruksi jalan pun berbelok mengikuti letak lahan yang bisa bebas saja.

Namun penjelasan Romli maupun Haryanto belum bisa konfirmasikan ke pihak-pihak yang terlibat pembebasan tanah dan pembangunan Jalan Tol Cipali di wilayah Walahar.(Yan/Jack)

Sumber : Tribunnews

  • Bagikan